Kritik Bantuan Pemerintah ke Rohingya, Amien Rais Dikecam

Pendiri Partai Amanat Nasional (PAN) Amien Rais menyatakan bantuan pemerintah kepada para pengungsi Rohingya hanya pencitraan belaka. Pernyataan tersebut menuai kecaman dari banyak pihak. Wakil Sekretaris Pengurus Daerah Keluarga Alumni Universitas Gadjah Mada (KAGAMA) DIY, Eko Suwanto menilai pernyataan Amien Rais tidak pantas diucapkan oleh seseorang yang dianggap sebagai tokoh reformasi. "Serangan Amien Rais pada pemerintah, khususnya Presiden Jokowi, adalah tindakan yang ngawur dan tidak tahu diri. Dia seharusnya turut mengawal pemerintahan, bukan malah menyerangnya dari dalam," ujar Eko dalam keterangan tertulis yang diterima Metrotvnews.com, Minggu 17 September 2017.Eko mengatakan, bantuan kemanusiaan yang diberikan Indonesia ke negara lain merupakan kewajiban konstitusional sesuai dengan amanat Undang-Undang Dasar 1945. Atas dasar itu, Eko menganggap Amien Rais tidak patut diteladani. Sebaliknya, Eko justru mengapresiasi berbagai langkah yang telah diambil oleh pemerintahan Jokowi seperti mengirimkan bantuan kemanusiaan. Menurut Eko, langkah-langkah itu justru membuktikan pemerintah menaruh perhatian serius terhadap krisis kemanusiaan yang menimpa etnis Rohingya di Rakhine State, Myanmar. "Pemerintah, khususnya Presiden Jokowi, sudah melakukan yang terbaik, termasuk mengirim Menteri Luar Negeri, Retno Marsudi, bertemu dengan para pemimpin Myanmar untuk membicarakan konflik ini. Tuduhan Amien bahwa pemerintah hanya melakukan pencitraan sangat tidak pantas diucapkan oleh orang yang partainya terwakili menjadi menteri di dalam pemerintahan," lanjut Eko. Sementara itu, sebanyak 54 ton bantuan kemanusiaan dari Indonesia untuk para pengungsi Rohingya telah tiba di Bangladesh. Rencananya, bantuan kemanusiaan yang terdiri dari beras, pakaian, makanan siap saji, dan beberapa kebutuhan pokok lainnya akan mulai didistribusikan ke 12 titik pengungsian di Cox's Bazar, Bangladesh pada Senin 18 September esok. [metrotvnews.com]

Read More »

Presiden Jokowi: Bhinneka Tunggal Ika Patut Disebarkan di Seluruh Dunia

Presiden Joko Widodo atau Jokowi membuka Silatnas ke-3 Majelis Tafsir Alquran (MTA) di Stadion Manahan, Solo. Pada kesempatan itu, Jokowi mengajak para santri untuk berdakwah dan menyebarkan semangat persaudaraan.Jokowi mengatakan, Majelis Tafsir Alquran di seluruh Indonesia wajib menyebarkan semangat persaudaraan, kerukunan, dan menjaga keutuhan NKRI. Lebih dari itu, semangat Bhinneka Tunggal Ika tidak sebatas perekat keberagaman. Bhinneka Tunggal Ika juga bisa disebarkan ke negara lain di dunia."Terbukti patut kita banggakan untuk kita sebarkan ke negara-negara yang lain," kata Jokowi di Stadion Manahan, Solo, Jawa Tengah, Minggu (17/9/2017).Presiden melanjutkan, Indonesia merupakan negara besar dengan penduduk muslim terbesar di dunia. Kelebihan ini sering dilupakan oleh masyarakat Indonesia sendiri."Ini yang sering kita lupa bahwa negara kita, Indonesia, adalah negara dengan penduduk muslim terbesar di dunia," ujar Jokowi.Di setiap konferensi internasional dan bertemu dengan kepala negara lain, Jokowi mengaku selalu menyampaikan bahwa Indonesia adalah negara dengan penduduk muslim terbesar di dunia, memiliki 17 ribu pulau, 714 suku, 1.100 lebih bahasa daerah, dan 34 provinsi, sehingga tidak ada negara lain sebesar Indonesia."Oleh sebab itu, saya ingin mengingatkan kepada kita semuanya, marilah kita jaga persaudaraan, ukhuwah islamiah, wathaniyah, dan basyariah kita," ucap Jokowi.Tidak heran bila banyak pemimpin negara-negara yang berpenduduk muslim ingin belajar bagaimana negara sebesar Indonesia dapat merawat kerukunan, mengelola keragaman, menjaga kemajemukan, dan kebinekaan.Turut hadir mendampingi Presiden, Ketua MPR Zulkifli Hasan, Menteri Sekretaris Negara Pratikno, Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo, dan Ketua Umum MTA Ahmad Sukina.Ketegasan soal RohingyaTerkait nasib warga Rohingya, Jokowi kembali menegaskan sikap Indonesia dan menyerukan agar kekerasan di Negara Bagian Rakhine harus segera dihentikan."Sikap kita tegas bahwa kekerasan dan krisis kemanusiaan di Rakhine State harus segera dihentikan," ujar Jokowi.Presiden mengaku telah mengutus Menteri Luar Negeri Retno Marsudi untuk bertemu langsung dengan pemimpin de facto Myanmar Aung San Suu Kyi, Panglima Angkatan Bersenjata, dan juga sejumlah menteri lainnya."Untuk mendesak agar kekerasan yang ada bisa dihentikan," imbuh Jokowi.Di sisi lain, Indonesia terus mengirimkan bantuan pada warga Rohingya dan pengungsi lain di Negara Bagian Rakhine. Empat pesawat Hercules dioperasikan secara bertahap untuk mengirim bantuan, seperti makanan, obatan-obatan, selimut, dan kebutuhan lainnya ke perbatasan Bangladesh dan Myanmar."Inilah hal-hal yang akan terus kita lakukan (mengirimkan bantuan). Di mana pun di negara mana pun apabila saudara-saudara kita terkena krisis kemanusiaan maupun konflik," tambah Jokowi.Ia menegaskan, sebagai negara dengan penduduk muslim terbesar di dunia, Indonesia tidak pernah berdiam diri terhadap persoalan-persoalan yang dihadapi umat muslim di dunia."Karena kita memegang teguh amanah konstitusi bahwa kita wajib ikut serta memelihara ketertiban dunia berdasarkan kemerdekaan, perdamaian abadi, dan keadilan sosial," ucap Jokowi. [liputan6.com]

Read More »

Menteri Susi: Sekarang Orang Takut dengan Indonesia

Menteri Kelautan dan Perikanan Susi Pudjiastuti sebut Indonesia menjadi negara yang ditakuti oleh negara lain pasca gencarnya pemberantasan illegal fishing. Bahkan aktivitas kriminal di tengah laut juga semakin berkurang."Kita menjadi pioneer sekarang orang pada takut ke Indonesia, mereka tidak melakukan di laut Indonesia, Indonesia di tengah laut, dengan mencurinya, ada yang membuat jaring pada saat lewat, begitu keluar kita tarik, paling tidak berkurang dari zaman sebelumnya," kata Susi di Kendari, Minggu (17/9/2017).Dengan demikian, optimistis bahwa Indonesia ke depan akan menjadi pusat perikanan dunia. Pasalnya, potensi sumber daya lautnya sangat masih besar.Untuk merealisasikan hal tersebut, kata Susi, diminta keterlibatan pemerintah daerah dalam menjaga atau memproduksi sumber daya laut secara berkelanjutan."Indonesia akan menjadi salah satu pusat perikanan, potensi kita juga besar, namun di daerah juga harus diberdayakan harus menjaga dan tidak bisa menghabiskan," ungkapnya.Susi menyebutkan, untuk menjadikan Indonesia sebagai pusat perikanan juga dengan mengatur hingga menjaga penangkapannya. Tidak seperti pertambangan, kata Susi, karena terus menerus dieksploitasi maka kerusakan alam akan menjadi kerugian negara di masa depan."Itu salah satu bencana buat negara, dan bisa menimbulkan kemana-mana, mulai dari stabilisasi sosial, politik di mana-mana, kalau ini sudah terganggu maka pembangunan terganggu," papar dia.Oleh karena itu, Susi meminta kepada seluruh pemerintah daerah dan juga perguruan tinggi untuk menyiapkan sumber daya manusia (SDM) yang mampu menjaga potensi sumber daya laut Indonesia ke depan."Jadi hal seperti ini menjadi perhatian kita, milenial ini perguruan tinggi harus diubah, tidak bisa lagi metode lama, dengan understanding terhadap perubahan kepada dunia, perubahan iklim juga harus disikapi, naiknya suhu udara juga akan pengaruhi permukaan air lait," ungkap dia. [detik.com]

Read More »

Ignasius Jonan: Tak Usah Didebatkan Agamanya Apa, Sukunya Apa

Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Igansius Jonan berharap tidak ada lagi pertentangan antar-masyarakat Indonesia dikarenakan perbedaan suku dan agama.Hal ini disampaikan Jonan kepada wartawan usai ikut aksi bersih-bersih Masjid Jam'iyyatul Iman dengan pemuda lintas agama, di Menteng Pulo, Jakarta Selatan, Minggu (17/9/2017)."Ini kan keberagaman bagian dari bangsa ini sejak kita sepakat untuk merdeka bersama. Dari Sabang sampai Merauke wong sukunya beda kok, banyak. Itu kan tidak perlu dipertentangkan," kata Jonan.Pantauan Kompas.com, Jonan sempat ikut membersihkan tempat wudhu masjid dengan menggunakan sikat lantai selama beberapa menit. Ia juga sempat mengobrol dengan marbot masjid Ali Musa dan memberi bantuan untuk membeli pendingin ruangan.Setelah selesai bersih-bersih, acara dilanjutkan dengan penanaman pohon di lapangan dan ditutup dengan makan siang bersama. Jonan menyajikan langsung makanan untuk warga sekitar."Jadi enggak usah didebatkan agamanya apa, sukunya apa dan lain hal. Saya kira enggak apa. Itu kan masing-masing pribadi," ucap Jonan.Jonan pun mengapresiasi kegiatan yang diinisiasi oleh Pimpinan Pusat Pemuda Muhammadiyah ini. Selain diikuti Ketua Umum PP Pemuda Muhammadiyah Dahnil Anzar Simanjuntak, acara ini juga diikuti oleh para pemuda lain dari perwakilan agama Katolik, Protestan, Hindu, dan Buddha."Ini jadi semangat gotong-royong yang dimiliki oleh budaya bangsa ini juga penting dan juga menghapus atau mengurangi sekat-sekat karena agama, karena suku. Ini saya apresiasi Pemuda Muhammadiyah," ujar Jonan.Ketua Umum PP Muhammadiyah Dahnil Anzar mengatakan, acara ini digelar PP Pemuda Muhammadiyah setiap bulan dengan mengundang pemuda dari lintas agama.Tak hanya masjid yang dibersihkan, namun juga rumah ibadah lain, yakni gereja, vihara dan kelenteng."Ini jadi pesan bahwa toleransi itu harus otentik, tidak boleh pura-pura toleransi. Jangan sampai toleransi digunakan sebagai propaganda," kata Dahnil. [kompas.com]

Read More »

Tinjau Kendaraan Desa Mahesa, Presiden Jokowi: Ini Sama Seperti Esemka

Presiden Joko Widodo meninjau bengkel Kiat Motor di Klaten, Jawa Tengah. Jokowi melihat contoh kendaraan pedesaan yang dibuat oleh Kiat Motor.Contoh kendaraan tersebut berada di bengkel Kiat Motor di Jalan Raya Solo-Yogyakarta di Klaten, Jawa Tengah, Minggu (17/9/2017). Dalam peninjauan tersebut, Jokowi didampingi oleh pendiri Kiat Motor, H Sukiyat yang juga pelopor mobil Esemka.Ada tiga kendaraan pedesaan 'Mahesa' yang dipamerkan ke Jokowi. Kendaraan jenis mobil itu merupakan contoh, belum diproduksi massal.Dikatakan Jokowi, mobil tersebut sama seperti mobil Esemka. Di mana produksinya dibangun dari giat Usaha Kecil Menengah (UKM)."Ada ide-ide, ada gagasan yang sudah jadi barang. Itu sama seperti dulu, kayak Esemka. Mobil Esemka itu sama. Jadi dibangun dari UKM-UKM kemudian diintegrasikan dengan Esemka kemudian menjadi mobil. Setelah jadi mobil, tahapan berikutnya ada sertifikasi, ada uji emisi, seperti itu sama," kata Jokowi.Jokowi mengatakan, pemerintah memberikan dukungan penuh untuk produksi kendaraan tersebut, dengan cara mendorong agar kendaraaan itu tersertifikasi dan lulus uji emisi."Kita sebagai pemerintah saat itu memberikan dukungan penuh, tetapi apapun sebuah produk, ini belum uji emisi, belum sertifikasi, tapi akan kita dorong juga untuk uji emisi dan sertifikasi," jelasnya.Namun, yang jadi persoalan yakni pasca-produksi. Kendaraan itu harus jelas perenacanaan bisnisnya."Itu tadi yang saya tanyakan ke Pak Kiat dan tim, bisnis plannya seperti apa? Bisa memproduksi, tapi nanti marketingnya seperti apa? Siapa yang membeli? Ini tidak semudah itu. Orang bertanya juga, Esemka sudah bersertifikasi, sudah uji emisi, tetapi apakah visible untuk dipasarkan? Apakah bisa berkompetisi? Apakah bisa bersaing? Itu pertanyaan-pertanyaan seperti itu yang harus bisa dijawab oleh industri," jelas Jokowi.Ditegaskan Jokowi, tugas pemerintah yakni memberikan dorongan agar gagasan seperti itu bisa masuk ke pasar. "Dan saya akan dorong ini agar segera sertifikasi, uji emisi, dan kalau selesai bussines plan harus sudah jelas dipasarkan kepada siapa, harganya berapa, apakah bisa bersaing dengan produk dari misalnya China, Korea, Jepang, karena ini masalah persaingan di pasar. Tetapi apapun, pemerintah harus mendorong, harus mendukung produk-produk dalam negeri seperti ini," kata Jokowi.Ditambahkan Jokowi, jika jadi, kendaraan Mahesa itu nantinya akan dijual di kisaran Rp 60-70 juta."Kalau Rp 60-70 juta saya kira banyak yang beli. Tapi sebulan bisa produksi berapa? Visible atau tidak visible secara bisnis? Bussines plannya seperti apa? Marketingnya ke siapa? Harus sudah rinci, harus sudah jelas," kata Jokowi. [detik.com]

Read More »

Mendagri: Tanya Pemerintah Myanmar Saja, yang Pencitraan Siapa?

Foto : Biro Pers SetpresMenteri Dalam Negeri Tjahjo Kumolo membantah pernyataan Ketua Umum Partai Gerindra Prabowo Subianto yang menyebut bahwa bantuan Indonesia untuk pengungsi Rohingya adalah pencitraan Presiden Joko Widodo."Tanya ke Pemerintah Myanmar saja, yang pencitraan siapa?" kata Tjahjo saat menghadiri ulang tahun ke-7 Badan Nasional Pengelolaan Perbatasan (BNPP) di kantor BNPP, Jakarta, Minggu (17/9/2017).Menurut dia, bantuan Pemerintah Indonesia kepada pengungsi Rohingya yang kini berada di Banglades sedianya tidak perlu dipertanyakan. Sebab, itu merupakan wujud langkah konkret pemerintah.Selain itu, menurut Tjahjo, pada Senin (4/9/2017) lalu Menteri Luar Negeri Retno Marsudi juga telah menyerahkan usulan Formula 4+1 untuk Rakhine State kepada konsulat negara Myanmar dalam misi diplomasi di Nay Pyi Taw, Myanmar.Kemudian, pada Rabu (13/9/2017), Pemerintah RI mengirim 34 ton bantuan kemanusiaan bagi pengungsi Rohingya di perbatasan Myanmar-Bangladesh.Jauh sebelum itu, yakni pada 2016, Pemerintah RI juga mengirimkan sekitar 10 kontainer paket bantuan untuk warga Rohingya yang berada di Rakhine State, Myanmar."Pak Jokowi ada buktinya kok, mengirim diplomasi dengan mengirim satu-satunya Menlu yang diterima oleh Pemerintah Myamar di sana," kata Tjahjo."Pak Jokowi ya kerja action, ada buktinya," ucap politisi PDI-P tersebut.Prabowo sebelumnya menganggap bantuan kemanusiaan yang diberikan Indonesia untuk warga etnis Rohingya di Rakhine State, Myanmar adalah bentuk pencitraan Presiden Joko Widodo."Kalaupun kita sekarang kirim bantuan menurut saya itu pencitraan. Kirim bantuan pun tak sampai kadang-kadang. Jadi saudara-saudara di sini saya harus kasih tahu supaya tidak emosional," kata Prabowo di Bundaran Patung Kuda, Jakarta, Sabtu (16/9/2017).Padahal, menurut Prabowo, langkah yang bisa dilakukan Pemerintah Indonesia untuk membantu Rohingya adalah dengan menjadikan Indonesia sebagai negara yang disegani di dunia."Percaya sama saya, kalau kita kuat, kaum Rohingya kita bantu, kita beresin. Kita harus kuat untuk bantu orang lemah, tidak bisa lemah bantu lemah, miskin bantu miskin," ucap dia. [kompas.com]

Read More »

Presiden Jokowi Tutup Festival Keraton Nusantara Cirebon, Raja Sultan Tak Boleh Bawa Keris

Presiden RI, Joko Widodo yang akrab disapa Jokowi dipastikan bakal menutup acara Festival Keraton Nusantara (FKN) XI di Kota Cirebon pada Senin (18/9/2017) besok.Untuk bisa hadir dan bertatap muka dengan Jokowi pada acara penutupan FKN XI yang digelar di Taman Gua Sunyaragi, raja dan sultan se-Nusantara dikenakan beberapa syarat. Dikatakan Danrem 063/SGJ, Kolonel Inf Veri Sudijanto Sudin, raja dan sultan yang akan hadir pada penutupan acara FKN XI nanti diwajibkan menanggalkan senjata tajam dan benda pusakanya. Hal itu sesuai dengan standar persyaratan dalam pengaman presiden."Walaupun ini FKN, kita harus menjalankan standar pengamanan. Raja dan sultan tidak boleh membawa senjatanya, seperti keris, tongkat, sangkur dan lainnya. Benda pusaka raja pun tidak diperkenankan untuk dibawa," kata Veri kepada detikcom usai memberikan arahan kepada raja dan sultan di Bangsal Pagelaran Keraton Kasepuhan, Kota Cirebon, Jawa Barat, Minggu (17/9/2017).Selain senjata dan benda pusaka para raja dan sultan, pengawal atau staf pribadi sultan pun tidak diperkenankan untuk hadir. Dikatakan Veri, hal tersebut dikarenakan lokasi acara penutupan sangat terbatas."Tentu aturan ini karena adanya keterbatasan tempat. Selain itu, undangannya juga terbatas. Kita juga mengimbau para raja dan sultan diwajibkan untuk memakai identitas VVIP," katanya.Prosesi perayaan penutupan FKN XI yang rencananya bakal dimeriahkan dengan menyalakan kembang api. Namun, Veri meminta agar panitia membatalkan prosesi tersebut. Ia juga mengatakan sebanyak 1200 personil gabungan akan diterjunkan untuk mengamankan presiden, termasuk menerjunkan penembak jitu."Kita sudah cek lokasi, termasuk untuk rute yang bakal dilintasi Pak Presiden pun akan kita sebar personil keamanan. Kalau untuk penyalaan kembang api itu kita batalkan karena dianggap berisiko, khawatir mengganggu ketertiban," ucapnya. [detik.com]

Read More »

Saat Presiden Jokowi Saksikan Gibran Jadi Jubir Keluarga

Presiden Joko Widodo (Jokowi) menunjuk putra sulungnya Gibran Rakabuming Raka sebagai juru bicara keluarga terkait pernikahan putri Presiden, Kahiyang Ayu dengan kekasihnya Bobby Nasution. Saat Gibran bicara, Jokowi pun menyaksikan 'aksi' anaknya itu.Jumpa pers tersebut berlangsung di kediaman keluarga Jokowi, Kelurahan Sumber, Kecamatan Banjarsari, Surakarta, Jawa Tengah, Minggu (17/9/2017). Jokowi memperkenalkan langsung Gibran sebagai jubir kepada wartawan. Bahkan Jokowi juga yang membuka kegiatan jumpa pers tersebut."Cerita mengenai Kahiyang. Ini juru bicaranya Gibran, bukan saya juru bicaranya. Mas Gibran silakan," kata Jokowi mempersilakan Gibran untuk bicara.Gibran kemudian mengambil mikrofon dan memulai debutnya sebagai jubir keluarga. Gibran pun menjelaskan mengenai pernikahan adiknya itu."Adik saya akan melangsungkan pernikahan pada tanggal 8 November. Jadi nanti acaranya akan dilakukan di Graha Sabha Buana. Acaranya simpel saja. Itu kan tanggal 8 hari Rabu, hari Selasanya kita siraman dan sebagainya. Hari Rabu pagi kita akad, terus setelah itu dilanjutkan dengan resepsi," kata Gibran.Gibran juga menjelaskan bahwa persiapan acara pernikahan tersebut sudah 80 persen. Gedung dan makanan disiapkan dengan memanfaatkan fasilitas yang dibangun sendiri oleh keluarga."Jadi kita pakai gedung sendiri dan catering sendiri," katanya.Di tengah Gibran berbicara, Jokowi perlahan 'melipir' ke samping kanan Gibran dan masuk ke dalam kerumunan wartawan. Bahkan banyak wartawan yang tak menyadari kehadiran Jokowi itu.Jokowi yang mengenakan setelan jas warna hitam dan dasi itu matanya terfokus ke Gibran yang bicara soal hari baik adiknya itu. Bahkan Jokowi sesekali mendongakkan kepalanya melihat Gibran yang duduk berdampingan dengan Kahiyang, Ibu Negara Iriana. Sementara putra Presiden bernama Kaesang Pangarep berdiri di belakang ibunya.Selesai anaknya memberi keterangan pers, Jokowi pun enggan untuk ditanya lebih lanjut."Sudah, jangan tanya saya lagi," kata Jokowi. [detik.com]

Read More »

Serunya Presiden Jokowi Main Pedang-pedangan dan Mandikan Cucu

Presiden Joko Widodo sempat berakhir pekan bersama cucunya, Jan Ethes Srinarendra di sela kunjungannya ke Solo. Keseruan keduanya direkam Jokowi lewat vlog.Vlog itu diunggah Jokowi di akun Youtube Jokowi pada Minggu (17/9/2017). Kegiatan kakek dan cucu ini mulai dari main perang-perangan hingga main bola."Hari ini saya berada di rumah, di Solo, dan berbahagia sekali bisa bertemu dengan Jan Ethes," ucap Jokowi di awal vlog. Jokowi yang memakai kemeja putih dan bersarung ini pertama-tama terlihat main pedang-pedangan bersama cucunya. Mereka berdua memegang pedang-pedangan warna merah.Setelah pedang-pedangan, kakek dan cucu ini ganti bermain bola yang juga berwarna merah. Jan Ethes tampak melempar-lempar bola dengan jenaka.Jokowi lalu menunduk dan menerima bola dari Jan Ethes yang memakai kaos dan celana pendek. Tak jarang juga Jokowi mengejar cucunya yang asik melempar bola.Keakraban keduanya berlanjut saat Jokowi mengajak Jan Ethes mandi di kolam renang. Jan Ethes tampak kegirangan saat dimandikan sang kakek dan sesekali berteriak serta tertawa. "Ini Jan Ethes baru mandi. Lagi, lagi. Hiyah, hiyah," kata Jokowi sambil tertawa.Semangatnya Jan Ethes bermain air ternyata bikin kemeja putih Jokowi basah. Namun, Jokowi santai saja dan meminta cucunya tetap seru-seruan main air."Ooh Mbah basah semua ini," ujar Jokowi. Sebagai orang Jawa, 'Mbah' adalah sebutan untuk kakek.Di akhir vlog, Jan Ethes yang sudah ganti baju tampak digendong Jokowi. Mereka berdua pun pamit dari para penonton vlog."Bahagia itu sederhana," tulis Jokowi di ujung vlog. [detik.com]

Read More »

Presiden Jokowi: Negara Lain Belajar Bagaimana Indonesia Mengelola Kerukunan, Kemajemukan, dan Kebinekaan

Indonesia adalah negara besar. Negara dengan penduduk muslim terbesar di dunia. Negara Indonesia memiliki 17.000 pulau, 714 suku, 1.100 lebih bahasa daerah, 516 kabupaten dan kota serta 34 provinsi.Pernyataan tersebut disampaikan oleh Presiden Joko Widodo (Jokowi) saat menghadiri Silaturahim Nasional Majelis Tafsir Al-Qur’an ke-III di Stadion Manahan Solo, Minggu (17/9), dengan mengusung tema “Merajut Kebhinekaan, Memperteguh NKRI” Silatnas MTA ke-III yang 100.000 peserta dari seluruh Indonesia.“Betapa negara ini adalah negara yang sangat besar, bermacam-macam majemuk sukunya bermacam-macam agamanya berbeda-beda ini sudah menjadi takdir Allah, sudah menjadi hukum Allah, inilah anugerah Allah yang diberikan kepada kita bangsa Indonesia,” tutur Presiden Jokowi.Dalam kesempatan tersebut, Presiden Jokowi juga berpesan untuk menjaga persaudaraan, ukhuwah Islamiyyah, ukhuwah wathoniah kita, dan ukhuwah bassariah karena Indonesia adalah negara besar. Presiden Afghanistan, Dr Ashraf Ghani, cerita Presiden Jokowi, pernah berpesan untuk menjaga negara Indonesia.“Presiden Jokowi, hati-hati negaramu, hati-hati negaramu, di Afghanistan itu hanya ada 7 suku, hanya ada 7 suku, negaramu memiliki 714 suku, di Afganistan ada suku Pashtun, suku Haszara, suku Path Tajik, suku Dahar Aynak, suku Uzbek, suku Kaiman, suku Aimak, 7 suku, kurang lebih 30 tahun yang lalu 2 suku bertikai, bersengketa,” tutur Presiden saat menceritakan pesan Presiden Ashraf Gani. Lebih lanjut, Presiden menyampaikan betapa penting merawat negara bersama-sama, berbeda suku, berbeda agama, tetapi tetap satu dalam bingkai Negara Kesatuan Republik Indonesia. Ia menambahkan bahwa para pemimpin dunia ini sedang melihat Indonesia, pun halnya pemimpin negara-negara yang berpenduduk muslim untuk belajar bagaimana merawat kerukunan, keragaman, kemajemukan dan kebinekaan.“Bagaimana kita bisa menunjukkan bahwa Islam di Indonesia adalah Islam yang Rahmatan Lil Alamin. Inilah yang ingin kita tunjukkan. Saya bertemu dengan Emir Qatar Sheikh Tamim saya sampaikan hal yang sama, saya bertemu dengan Emir Uni Emirates Arab juga saya sampaikan hal yang sama supaya negara lain tahu, supaya dunia tahu, bahwa negara ini adalah negara besar,” tambah Presiden.Sementara itu, Pimpinan Pusat Majelis Tafsir Alquran (MTA), Ustaz Drs. Ahmad Sukina menyampaikan bahwa lembaga yang dipimpinnya telah memiliki 64 cabang dan perwakilan.MTA, lanjut Ahmad, merupakan lembaga dakwah yang didirikan oleh almarhum Ustaz Abdullah Taufik Saputra pada tanggal 19 September 1972. Ia menyampaikan bahwa sebagai lembaga dakwah yang mempelajari Al Qur’an, MTA dalam kegiatannya tidak berpolitik praktis dan juga bukanlah bawahan dari suatu partai politik dan tidak akan menjadi partai politik.“Selain dakwah, bidang lain yang dikembangkan oleh MTA antara lain bidang pendidikan, kesehatan, dan ekonomi. Sebagai bagian dari pengamalan mengaji, MTA juga banyak berkecimpung dalam kegiatannya sosial diantaranya donor darah rutin, penerjunan Tim SAR dalam berbagai bencana,” tambah Ahmad.Di akhir laporannya, Ahmad Sukunya juga menyampaikan bahwa MTA aktif dalam kegiatan Tentara Manunggal Membangun Desa (TMMD) Sangkuriang yang digelar oleh Kodim Soloraya bekerja sama dengan pemerintah kabupaten/kota setempat.“Pendengar pengajian MTA tidak hanya berasal dari Tanah Air, sebab telah tumbuh kelompok-kelompok pengajian di luar negeri diantaranya Korea, Jepang, Amerika, Abu Dhabi, dan Malaysia yang melaksanakan pengajian baik secara online maupun offline,” pungkas Ahmad akhiri laporannya.Dalam acara tersebut, Presiden Jokowi didampingi oleh Mensesneg Pratikno, Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo, dan Wali Kota Solo FX Hadi Rudyatmo. [setkab.go.id]

Read More »