Home / Uncategorized / Presiden Jokowi: Kita Sudah Ketinggalan Jauh Soal Infrastruktur

Presiden Jokowi: Kita Sudah Ketinggalan Jauh Soal Infrastruktur


Presiden Joko Widodo (Jokowi) mengungkapkan pembangunan infrastruktur di Indonesia mengalami ketertinggalan. Keterlambatan pembangunan infrastruktur menyebabkan biaya pembebasan lahan semakin mahal.
"Kita sudah ketinggalan jauh soal infrastruktur, harga pembebasan lahan semakin mahal, konstruksinya juga," papar Jokowi di Gerbang Tol Kualanamu, Deli Serdang, Jumat (13/10/2017).
Jokowi mencontohkan, harga tanah untuk proyek Mass Rapid Transit (MRT) jika dimulai sejak 25 tahun lalu jauh lebih murah dibandingkan saat ini. Keterlambatan pembangunan infrastruktur ini yang membuat biaya pembangunan semakin mahal.
Saat ini, harga pembebasan lahan di proyek MRT bisa mencapai ratusan juta rupiah per meternya. Biaya ini membuat investasi pembangunan infrastruktur membengkak.
"Sekarang ada yang Rp 90 juta sampai Rp 200 juta per meter persegi karena terlambat membangun," ujar Jokowi.
Keterlambatan tersebut juga berimbas pada kemacetan lalu lintas di ibu kota, Jakarta yang berujung pada kerugian materi. Kerugian tersebut padahal bisa digunakan untuk membangun infrastruktur.
"Kehilangan biaya kita karena kemacetan di Jakarta dan seterusnya setahun hilang Rp 28 triliun karena macet. (Kalau) dipakai bangun udah jadi berlipat-lipat," kata Jokowi. [detik.com]

About admin

Check Also

Menteri Pertanian: Kita Bisa Beri Makan Penduduk Kita Tanpa Impor

Menteri Pertanian Andi Amaran Sulaiman mengatakan, saat ini Indonesia tidak perlu lagi melakukan impor pangan dari luar. Karena produksi pertanian bisa mencukupi kebutuhan dalam negeri.Hal tersebut disampaikannya dalam pembukaan Hari Pangan Sedunia (HPN) ke-37 yang dipusatkan di Markas Kodam XII Tanjungpura, Pontianak, Kalimantan Barat, Jumat (19/10/2017)."Hari ini kita merasa bahagia, berbeda dengan sebelumnya. Khusus untuk Indonesia, kita telah menunjukkan kepada dunia bahwa kita bisa memberikan makan kepada penduduk kita sendiri tanpa impor," ujar Amran.Saat ini, sambung Amran, Indonesia sudah tidak lagi melakukan impor beras. Bahkan, Indonesia juga sudah mempersiapkan untuk melakukan ekspor ke luar negeri."Sekarang kita tidak impor lagi beras, tidak impor lagi jagung. Dulu kita impor 3,6 juta ton, sekarang hari ini kita tidak impor lagi bahkan persiapan ekspor," ungkap Amran.Selain persiapan ekspor beras, Indonesia mengekspor beberapa komoditas. Bahkan, dalam pertemuan Menteri Pertanian se-Asia beberapa waktu lalu, tiga menteri pertanian dari berbagai negara akan datang ke Indonesia."Bulan lalu empat atau lima menteri dari negara lain, bahkan salah satunya ada wakil perdana menteri datang dan mereka mengatakan langsung ingin berguru. Apa yang dilakukan Indonesia sehingga bisa stop impor jagung 3,6 juta ton, nilainya kurang lebih Rp 10 triliun," papar Amran.Keberhasilan Indonesia dalam bidang pertanian menurut Arman tak lepas dari pembenahan regulasi dan perubahan total terhadap regulasi yang menghambat sesuai dengan perintah Presiden Joko Widodo.Pemerintah, dalam bidang pertanian mempermudah masuknya investor serta memberikan garansi cepatnya pemberian izin."Kita memperbaiki regulasi selama ini. Dulu, semuanya tender. Benih tender, pupuk tender, padahal APBN turun itu pada bulan Januari bersamaan dengan musim hujan," ucapnya. [kompas.com]

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *