Home / Uncategorized / ‘Kebun Angin’ Pertama RI 75 MW, Bisa Listriki Puluhan Ribu Rumah

‘Kebun Angin’ Pertama RI 75 MW, Bisa Listriki Puluhan Ribu Rumah


Listrik yang berasal dari Pembangkit Listrik Tenaga Bayu (PLTB) yang berlokasi Kabupaten Sidrap, Sulawesi Selatan mampu melistriki hingga puluhan ribu, bahkan ratusan ribu rumah. Hal ini diungkapkan Menteri ESDM, Ignasius Jonan, saat kunjungan kerja ke lokasi proyek PLTB Sidrap 75 MW di Desa Mattirotasi dan Lainungan, Kecamatan Watangpulu, Kabupaten Sidrap, Sulawesi Selatan, Sabtu (30/9/2017).
Jonan menyebutkan, PLTB berkapasitas 75 MW ini akan beroperasi pada 2018.
"Wah 75 MW ya kalau rumah gini saja, 75 MW itu sama dengan 75.000.000 watt. kalau satu rumah misalnya 900 VA, atau 1.000 VA berarti 75.000 rumah, kira-kira atau 80.000 rumah," jelas Jonan.
"Kalau rumah yang kapasitasnya 450 VA, ya berarti 150.000 rumah itu," sambung dia.
Jonan mengungkapkan, jumlah rumah yang berada di Kabupaten Sidrap sampai saat ini sebanyak 54 ribu. Sehingga, terdapat kelebihan pasokan listrik, dan bisa dijual ke kabupaten lain.
Jonan melanjutkan, proses penyelesaian proyek PLTB Sidrap ini nantinya akan terkoneksi dengan sistem atau jaringan listrik milik PLN. Bahkan, komitmen Pemda Sidrap akan kembali mengembangkan PLTB Sidrap tahap kedua.

Foto : Dok. Kementerian ESDM

Pembangunan PLTB Sidrap ini juga menjadi yang pertama di Indonesia, dan akan membawa Indonesia sebagai negara yang memiliki PLTB secara komersil sama dengan beberapa negara lainnya, seperti Jepang, Filipina, China, India, Korea Selatan.
"Kebetulan kalau pertama ini adanya di kabupaten Sidrap," terang Jonan.
Bupati Sidrap, Rusdi Masse mengatakan, pemerintah daerah Sidrap bersama dengan masyarakat akan terus mendukung terkait dengan investasi proyek di sektor energi baru terbarukan ini.
"Apa yang telah pengusulan atau permintaan dari pihak investor itu kami menjaga, mengawal terus baik mulai dari masalah administrasi sampai hari ini pemda dan masyarakat setempat mengawal terus pelaksanaan proyek ini," kata Rusdi.
Sementara CEO UPC Renewables, Brian Caffyn mengaku tidak merasa khawatir sedikitpun untuk melakukan investasi PLTB pertama di Indonesia.
"Kami butuh Indonesia kami cinta indonesia, orang-orang dan tempat yang indah. kami sudah mulai di Filipina dan sekarang di sini kami punya banyak hal yang akan dilakukan, kita punya proyek dan negara ini memungkinkan untuk kami melakukannya," kata Brian.
Menurut Brian, yang memotivasi UPC Renewables mengembangkan PLTB di Sidrap karena tantangannya.
"Motivasi saya adalah ini merupakan tantangan karena enam tahun yang lalu semua orang mengatakan bahwa saya bisa menemukan energi dari angin di Indonesia dan sekarang yang mewujudkan tantangan tersebut dimulai dari PLTB pertama ini," tutur Brian. [detik.com]

About admin

Check Also

Menteri Pertanian: Kita Bisa Beri Makan Penduduk Kita Tanpa Impor

Menteri Pertanian Andi Amaran Sulaiman mengatakan, saat ini Indonesia tidak perlu lagi melakukan impor pangan dari luar. Karena produksi pertanian bisa mencukupi kebutuhan dalam negeri.Hal tersebut disampaikannya dalam pembukaan Hari Pangan Sedunia (HPN) ke-37 yang dipusatkan di Markas Kodam XII Tanjungpura, Pontianak, Kalimantan Barat, Jumat (19/10/2017)."Hari ini kita merasa bahagia, berbeda dengan sebelumnya. Khusus untuk Indonesia, kita telah menunjukkan kepada dunia bahwa kita bisa memberikan makan kepada penduduk kita sendiri tanpa impor," ujar Amran.Saat ini, sambung Amran, Indonesia sudah tidak lagi melakukan impor beras. Bahkan, Indonesia juga sudah mempersiapkan untuk melakukan ekspor ke luar negeri."Sekarang kita tidak impor lagi beras, tidak impor lagi jagung. Dulu kita impor 3,6 juta ton, sekarang hari ini kita tidak impor lagi bahkan persiapan ekspor," ungkap Amran.Selain persiapan ekspor beras, Indonesia mengekspor beberapa komoditas. Bahkan, dalam pertemuan Menteri Pertanian se-Asia beberapa waktu lalu, tiga menteri pertanian dari berbagai negara akan datang ke Indonesia."Bulan lalu empat atau lima menteri dari negara lain, bahkan salah satunya ada wakil perdana menteri datang dan mereka mengatakan langsung ingin berguru. Apa yang dilakukan Indonesia sehingga bisa stop impor jagung 3,6 juta ton, nilainya kurang lebih Rp 10 triliun," papar Amran.Keberhasilan Indonesia dalam bidang pertanian menurut Arman tak lepas dari pembenahan regulasi dan perubahan total terhadap regulasi yang menghambat sesuai dengan perintah Presiden Joko Widodo.Pemerintah, dalam bidang pertanian mempermudah masuknya investor serta memberikan garansi cepatnya pemberian izin."Kita memperbaiki regulasi selama ini. Dulu, semuanya tender. Benih tender, pupuk tender, padahal APBN turun itu pada bulan Januari bersamaan dengan musim hujan," ucapnya. [kompas.com]

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *