Home / Uncategorized / Menteri PPN: Masyarakat Indonesia Terlalu Bergantung pada Subsidi

Menteri PPN: Masyarakat Indonesia Terlalu Bergantung pada Subsidi


Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional (PPN) atau Kepala Bappenas Bambang Brodjonegoro mengungkapkan kendala terbesar dalam mencapai target pembangunan terutama indeks pembangunan manusia.
Bagi dirinya kendala terbesar datang dari kebiasaan masyarakat terhadap subsidi yang diberikan pemerintah. Menurut Bambang, kebiasaan tersebut membuat masyarakat terus menerus beergantung pada subsidi.
Padahal, saat ini pemerintah tengah mengurangi subsidi yang dianggap tak tepat sasaran dan konsumtif untuk dialihkan pada kegiatan yang lebih produktif.
"Mungkin yang paling sulit adalah kita sudah terbiasa sangat lama dengan mengandalkan subsidi yang larinya hanya ke harga komoditas, apakah itu BBM atau pupuk," kata Bambang dalam wawancara khusus bersama Metrotvnews.com, di kantornya, Menteng, Jakarta Pusat.
Oleh karena itu, lanjut Bambang, pemerintah mencoba mmperbaiki kualitas pembangunan manusia dengan carabaru yakni bantuan tepat sasaran. Kendati demikian memang diakui dia, tantangannya yakni memastikan data yang kuat dan terus menerus diverifikasi.
"Pasti ada kesalahan sana sini yang harus terus diperbaiki,' tutur dia.
Selain itu, Pemerintah juga melakukanya dengan memperbaiki mekanisme penyaluran dari dalam bentuk barang yang selama ini tak tepat sasaran menjadi bantuan nontunai. Namun tentu harus juga dipahami bahwa tidak semua masyarakat Indonesia siap dengan mekanisme seperti itu.
"Mekanisme model pembelian secara langsung masih terjadi, itu yang kadang-kadang enggak optimal," jelas dia. [metrotvnews.com]

About admin

Check Also

Menteri Pertanian: Kita Bisa Beri Makan Penduduk Kita Tanpa Impor

Menteri Pertanian Andi Amaran Sulaiman mengatakan, saat ini Indonesia tidak perlu lagi melakukan impor pangan dari luar. Karena produksi pertanian bisa mencukupi kebutuhan dalam negeri.Hal tersebut disampaikannya dalam pembukaan Hari Pangan Sedunia (HPN) ke-37 yang dipusatkan di Markas Kodam XII Tanjungpura, Pontianak, Kalimantan Barat, Jumat (19/10/2017)."Hari ini kita merasa bahagia, berbeda dengan sebelumnya. Khusus untuk Indonesia, kita telah menunjukkan kepada dunia bahwa kita bisa memberikan makan kepada penduduk kita sendiri tanpa impor," ujar Amran.Saat ini, sambung Amran, Indonesia sudah tidak lagi melakukan impor beras. Bahkan, Indonesia juga sudah mempersiapkan untuk melakukan ekspor ke luar negeri."Sekarang kita tidak impor lagi beras, tidak impor lagi jagung. Dulu kita impor 3,6 juta ton, sekarang hari ini kita tidak impor lagi bahkan persiapan ekspor," ungkap Amran.Selain persiapan ekspor beras, Indonesia mengekspor beberapa komoditas. Bahkan, dalam pertemuan Menteri Pertanian se-Asia beberapa waktu lalu, tiga menteri pertanian dari berbagai negara akan datang ke Indonesia."Bulan lalu empat atau lima menteri dari negara lain, bahkan salah satunya ada wakil perdana menteri datang dan mereka mengatakan langsung ingin berguru. Apa yang dilakukan Indonesia sehingga bisa stop impor jagung 3,6 juta ton, nilainya kurang lebih Rp 10 triliun," papar Amran.Keberhasilan Indonesia dalam bidang pertanian menurut Arman tak lepas dari pembenahan regulasi dan perubahan total terhadap regulasi yang menghambat sesuai dengan perintah Presiden Joko Widodo.Pemerintah, dalam bidang pertanian mempermudah masuknya investor serta memberikan garansi cepatnya pemberian izin."Kita memperbaiki regulasi selama ini. Dulu, semuanya tender. Benih tender, pupuk tender, padahal APBN turun itu pada bulan Januari bersamaan dengan musim hujan," ucapnya. [kompas.com]

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *