Home / Uncategorized / Menteri Agama Tinjau Tempat Percontohan Penyembelihan Dam di Muashim

Menteri Agama Tinjau Tempat Percontohan Penyembelihan Dam di Muashim


Menteri Agama Lukman Hakim Saifuddin meninjau tempat percontohan penyembelihan Dam di Muashim. Tempat penyembelihan resmi ini dikenal dengan Al Maslakh Al Muaishim An-Namudzajy. Di Saudi ada beberapa tempat pemotongan, misal Kakiyah, tapi Muashim yang ditetapkan sebagai salah satu percontohan.
“Hari ini, saya bersama delegasi Amirul Hajj mengunjungi tempat pemotongan hewan di Muaishim. Ini tempat resmi yang ditunjuk Pemerintah Saudi untuk pemotongan hewan,” ujar Menag di Muaishim, Senin (28/08).
“Dulu memang ada onta juga, tapi oleh pemerintah Saudi tahun ini dikecualikan sehingga hanya kambing saja yang dipotong di sini,” sambungnya.
Menurut Menag, Maslakh Muaishim juga menjadi pilihan tempat pemotongan Dam bagi jemaah Indonesia, baik secara perorangan maupun kolektif melalui KBIH (Kelompok Bimbingan Ibadah Haji). Tiba di Muaishim, Menag sempat berkeliling, mengamati, dan berdialog dengan sejumlah pihak, termasuk dengan penanggung jawab Maslakh Muaishim.
“Saya menilai cara mereka menguliti, membersihkan daging yang sudah dipotong, juga proses pemotongannya, sudah memenuhi ketentuan yang berlaku. Saya melihat yang mengerjakan adalah mereka yang berseragam warna merah, dan itu merupakan petugas resmi yang memiliki izin untuk melakukan pemotongan,” ujarnya.
“Pemerintah sangat mengimbau agar seluruh jemaah haji kita membayarkan dam-nya pada tempat resmi yang sistem pertanggungjawabannya bisa diandalkan,” sambungnya.
Berdasarkan informasi dari penanggung jawab tempat pemotongan, harga pasar kambing di tempat ini berkisar 400 – 500 SAR. Di luar itu, ada tambahan biaya pemotongan antara 20 – 50 Riyal. “Jelang musim haji, harganya agak sedikit mahal,” kata Menag.
Ditanya soal pengelolaan pembayaran Dam ke depan, Menag mengatakan bahwa Pemerintah Indonesia sedang mengkaji dan mendalami Dam bisa dikelola lebih baik. Pendalaman dilakukan tidak hanya dari sisi ketentuan hukum agama, tapi juga bagaimana sistem pengelolaan pemotongan hewan dan distribusi daingnya. “Setelah dipotong, siapa yang akan memanfaatkan. Menurut ketentuan agama, mereka yang berhak adalah para masakin, fuqara, dan lainnya,” katanya.
Selain ke tempat pemotongan kambing, Menag juga melihat langsung tempat penjualan kambing. Menag sempat menanyakan harga kambing dan umumnya berkisar SAR500. Menag juga sempat menanyakan usia kambing yang dijual, termasuk mengecek langsung kelayakannya dengan membuka mulut kambing untuk melihat giginya. [kemenag.go.id]

About admin

Check Also

Kahiyang Ayu Resmi Bergelar Adat Namora Pinayongan Kasayangan

Kahiyang Ayu dan Bobby Nasution selesai menjalani prosesi marpangir atau meninggalkan masa lajang. Selanjutnya, gelar adat untuk mereka berdua ditabalkan.Prosesi penabalan gelar adat ini dilaksanakan di gelanggang adat di Bukit Hijau Regency Taman Setiabudi (BHR-Tasbi), Medan, Sumatera Utara, Sabtu (25/11/2017)."Kemarin dalam suatu kerapatan adat Ananda berdua telah diberi gelar adat. Ananada Bobby telah diberi gelar adat Sutan Porang Gunung Barining Naposo dan Ananda Kahiyang Ayu boru Siregar Namora Pinayongan Kasayangan," kata tetua adat.Tetua adat kemudian melemparkan beras kuning ke kepala Kahiyang dan Bobby sambil mengucapkan horas sebanyak tiga kali. Itu adalah tanda gelar adat mereka telah sah diterima. Mereka juga dipakaikan ulos. Gong dibunyikan sembilan kali diikuti pemukulan gordang sambilan."Saya harap Ananda berdua menjaga nama baik ini. Nama ini adalah nama orang yang bermartabat," ujar tetua adat. Kahiyang dan Bobby tampak tersenyum menerima gelar adat itu.Paman Bobby, Erwan Nasution, selaku suhut sebelumnya bicara soal makna gelar untuk Kahiyang dan Bobby itu."Untuk Bobby artinya panglima muda, ini kan gelar dari atas turun ke bawah. Untuk Kahiyang, artinya dia dipayungi," jelas Erwan. [detik.com]

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *